Saudi Diminta Buat Petunjuk Arah Berbahasa Indonesia

JAKARTA–Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengirim surat kepada Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, agar segera memproses permohonan kepada pemerintah Arab Saudi untuk membuat petunjuk arah di sejumlah kawasan Masjidil Haram dan sekitarnya dengan Bahasa Indonesia.
 
Pembuatan petunjuk arah dengan Bahasa Indonesia itu penting mengingat wilayah itu kini semakin sempit sebagai dampak pembongkaran bangunan. “Kita sudah mengirim surat ke KJRI. Harapannya segera diproses,” kata Direktur Pembinaan Haji dan Umroh, H.Ahmad Kartono kepada pers di Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, Kamis (12/9) malam.
 
Di hadapan para peserta petugas PPIH, Kartono menegaskan, kawasan Masjidil Haram dewasa ini terkesan makin “sumpek”, sempit dan banyak jalan berkelok-kelok. Petugas PPIH saat ini berjumlah 414 orang, 50 diantaranya diberangkatkan dengan Maskapai Arab Saudi dan selebihnya dengan Garuda.
 
Jika pada tahun sebelumnya jemaah sehabis thawaf bisa menuju tempat sa’i dengan mudah, dengan berjalan lurus, maka sekarang harus berjalan dengan berbelok-belok. Kondisi itu jika tak diantisipasi akan menyulitkan jemaah.
 
“Petugas saja yang sudah tahu kawasan itu bingung, apalagi jemaah, yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram,” kata Kartono yang mengaku baru saja pulang dari Saudi Arabia untuk menyelesaikan proses rekrutmen tenaga musiman (temus) yang berasal dari kalangan mahasiswa di Timur Tengah dan sekitarnya.
 
Itulah alasannya mengapa PPIH perlu mendesak kepada KJRI, mendorong agar segera memprosesnya agar Saudi membuat petunjuk arah di beberapa tempat dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
 
Sebetulnya, jauh sebelumnya Menteri Agama Suryadharma Ali jauh hari juga pernah mengingatkan akan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia di tanah suci. Bukan saja untuk petunjuk arah, tetapi juga pengumuman lainnya berkaitan dengan pelaksanaan ritual ibadah haji.
 
Ia menjelaskan, areal tawaf menjadi perhatian penting belakangan ini. Pasalnya, selain menyempit yang semula bisa menampung 42 ribu orang per jam, kini hanya sekitar 22 ribu orang per jam. Tempat tawaf darurat yang disiapkan untuk jemaah usia lanjut dan menggunakan kursi roda, kapasitasnya pun terbatas. Hanya mampu menampung sekitar 15 ribuan.
 
Jika tempat tawaf darurat itu lemah dalam pengawasan, tak mustahil berpotensi menimbulkan masalah ke depannya. Karena itu sesama petugas harus lebih meningkatkan pengawasan dan koordinasi.