Beban Petugas Haji Semakin Berat

PONDOK GEDE –  Petugas haji yang berangkat tahun ini memiliki tugas yang cukup berat. Selain akibat pemotongan kuota haji 20 persen yang secara langsung berdampak pada pengurangan jumlah petugas, kondisi Masjidil Haram yang tengah direnovasi membuat pengontrolan jamaah harus lebih ditingkatkan.
 
Akibat dari renovasi itu, diperkirakan jamaah yang thawaf di Masjidil Haram akan semakin padat. Mengingat lantai 2 dan 3 tidak lagi dapat dijadikan untuk tempat berthawaf.
 
Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Cepi Surapriatna berpesan agar petugas haji lebih waspada dan meningkatkan pengawasannya bagi jamaah, terutama jamaah yang lanjut usia.
 
Ketika berthawaf, jamaah yang lanjut usia bisa saja terpisah dari jamaah, atau harus berthawaf dengan kursi roda. Sedangkan jalur khusus untuk kursi roda yang berada di lantai 2 dan 3 sudah tidak dapat lagi digunakan. Thawaf dengan kursi roda di lantai dasar tentunya menjadi kendala tersendiri ketika jamaah berdesak-desakan.
 
“Khususnya jamaah haji lansia (lanjut usia) serta yang mengidap penyakit tertentu atau berkebutuhan khusus, perlu ditingkatkan pelayanan kepada jamaah haji tersebut, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiapkan kursi roda,” jelas Cepi usai memberi pembekalan kepada ratusan petugas haji Daerah Kerja (Daker) Makkah, di gedung SG3 asrama haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis malam (12/09).
 
Melayani 155.200 orang jamaah haji reguler dan 13.600 orang jamaah haji khusus tentu memerlukan kesabaran dan ketelatenan dari petugas haji. Cepi meminta petugas haji yang berangkat dapat memiliki komitmen tinggi, bahwa mereka yang berangkat harus semata-mata berniat menjadi pelayan bagi jamaah haji.
 
Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Kementerian Agama Kartono menambahkan pembekalan bagi petugas haji tersebut untuk mengingatkan kembali tugas dan tanggung jawab mereka.
 
Ia tak memungkiri, tugas petugas haji tahun ini sangat berat dibanding tahun lalu. Kartono juga mengapresiasi tugas mereka jika itu semua dijalankan ikhlas lillahi ta’ala. “Demi melayani para tamu Allah, mereka rela meninggalkan keluarga tercinta,” ujarnya.
 
Menurut Kartono, kawasan Masjidil Haram setelah menjalani renovasi itu terkesan “sumpek”, sempit, dan banyak jalan yang membingungkan jamaah. Di Masjidil Haram sendiri, akibat renovasi itu jalan Thawaf jadi berkelok-kelok. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan kepada Pemerintah Arab Saudi untuk membuat petunjuk arah dengan Bahasa Indonesia, mengingat wilayah itu kini semakin sempit sebagai dampak pembongkaran bangunan. “Kita sudah mengirim surat ke KJRI. Harapannya segera diproses,” ujarnya.
 
Tahun sebelumnya jamaah yang selesai melaksanakan thawaf bisa dengan mudah menuju tempat sa’i. Mereka tinggal berjalan lurus dan sampai di tempat Shafa (memulai sa’i). Namun saat ini jamaah yang ingin sa’i harus berjalan berbelok-belok. Menurut Kartono, jika tidak segera diantisipasi pasti akan menyulitkan jemaah. “Petugas saja yang sudah tahu kawasan itu bingung, apalagi jemaah, yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram,” ujarnya.
 
Tahun ini, ada 414 petugas haji yang diberangkatkan. Rinciannya, dari Kementerian agama 249 orang ditambah Petugas dari Kementerian Kesehatan 165 orang. 50 orang diberangkatkan dengan Maskapai Arab Saudi dan selebihnya dengan Garuda. Mereka akan berada di Arab Saudi selama 2 bulan (60 hari).
 
Penempatan mereka akan disebar di seluruh Maktab (pemondokan), Mathof (pengiring jamaah dalam thawaf), dan kantor Daker.
 
“Bila jamaah haji memerlukan bantuan, baik penginapan, makanan, transportasi, kesehatan, ibadah, pelayanan umum, maupun informasi lain, silahkan hubungi petugas. Sebab, sudah menjadi kewajiban petugas, untuk melayani jamaah dengan sebaik-baiknya, seperti melayani orang tua kita sendiri,” pesan Kartono.