Tantangan Fisik Saat Berhaji

REPUBLIKA.CO.ID, Haji merupakan rangkaian ibadah yang berat. Kerap disebut merupakan kesempurnaan keislaman seseorang, rangkaian prosesi ibadahnya menguras energi. Sebelum memasuki prosesi ibadah, mereka yang melaksanakan ibadah haji, terlebih dahulu mengharungi ribuan kilometer untuk mencapai Tanah Suci. Tak mengherankan, Allah dalam Alquran berfirman bahwa hamba-hamba-Nya berdatangan dari berbagai penjuru, dengan tubuh berdebu.  Berkaitan dengan itu, seseorang yang hendak menunaikan ibadah haji, selaiknya melakukan persiapan fisik, mental, pengetahuan, dan materi. Kesiapan fisik diperlukan karena untuk umrah, lempar jumrah atau melaksanakan shalat arba’in di Masjid Nabawi, misalkan, jamaah harus berjalan kaki beberapa kilometer. Ini belum termasuk pelaksanaan wukuf di Arafah. Begitu juga perjalanan menuju Muzdalifah dan Mina untuk melaksanakan lempar jumrah di Mina yang juga memerlukan fisik yang prima.  Shalat arba’in memang hukumnya sunat. Meski demikian, kebanyakan jamaah menginginkan untuk dapat melaksanakan ibadah itu. Arba’in artinya empat puluh. Apa yang dimaksud dengan arba’in di sini adalah shalat wajib lima waktu yang dilakukan secara berjamaah di Masjid Nabawi. Selama delapan hari terus menerus tanpa putus hingga bilangannya mencapai 40 waktu.  Pemondokan jamaah haji di Madinah berada sekitar 500 meter hingga 1 kilometer dari Masjid Nabawi. Bayangkan, bila harus melaksanakan shalat lima waktu di Masjid Nabawi, mereka dalam sehari harus berjalan kaki sekitar 5-10 kilometer (bolak-balik pemondokan-Masjid Nabawi). Jarak tempuh yang sama juga harus dilakukan jamaah haji ketika berada di Makkah. Ini karena pemondokan jamaah haji di kota kelahiran Nabi Muhammad itu juga hampir sama dengan yang di Madinah.  Perjalanan kaki yang lebih berat juga harus dilakukan jamaah ketika melaksanakan umrah. Ini karena thawaf dan sa’i harus dilaksanakan secara berurutan. Untuk tawaf dengan mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran misalnya, jamaah beruntung bila belum banyak orang. Namun biasanya selama musih haji, jamaah yang melakukan tawaf terus berjubel sepanjang hari dan malam.  Dalam kondisi itu, bisa-bisa jarak tempuh setiap putaran mencapai sekali putaran lapangan bola. Hal yang sama juga terjadi dalam pelaksanaan sa’i. Untuk melaksanakan ibadah ini mereka harus menempuh jalan kaki antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Jarak antara dua tempat itu sekitar 2,8 kilometer. Bisa dibayangkan berapa kilometer jarak yang harus ditempuh jamaah haji ketika melaksanakan ibadah umrah ini.  Buat jamaah berusia muda atau yang biasa berolahraga, jarak tempuh baik untuk mengejar shalat arba’in ataupun melaksanakan ibadah umrah — sejauh itu mungkin tidak menjadi persoalan. Namun buat yang berusia lanjut atau tidak pernah olahraga tentu akan memunculkan persoalan berkaitan dengan kesehatan. Dengan data-data semacam itu, sebaiknyalah para calon jamaah haji dari sekarang, ketika masih di Tanah Air, segera mempersiapkan fisik secara baik. Baik itu dengan membiasakan diri berjalan kaki atau gerakan-gerakan olahraga lainnya. Dengan begitu ketika pada hari H-nya mereka bisa melaksanakan ibadah dengan baik. Ingat ibadah haji adalah mahal, baik dari segi waktu apalagi dana.