Tempat Transit Bandara Jeddah Dipenuhi Barang Tercecer

JEDDAH – Ratusan barang tercecer (bacer) menumpuk di sudut tempat transit Gate D dan B Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi. 

Barang-barang tercecer tersebut milik jamaah haji Indonesia yang sengaja ditinggalkan karena sudah tidak mungkin masuk dalam pesawat. Dalam ketentuan maskapai penerbangan haji, jamaah haji tidak boleh membawa barang melebihi beban tujuh kilogram (kg) atau terlalu banyak tas tenteng yang dibawa jamaah.

Meski pihak PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) dan Saudi Airlines berulang kali memberi peringatan kepada jamaah haji, sebagian jamaah tetap membawa barang melebihi muatan. Saat kepulangan jamaah haji Kloter 20 Embarkasi Surabaya di Gate B (Saudi Airlines), Republika melihat beberapa jamaah masih membawa barang berlebih. 

Ada jamaah perempuan yang terpegok membawa galon kecil berisi air zam-zam yang disembunyikan di ketiak dan ditutup kain. Petugas yang curiga langsung meminta jamaah untuk meninggalkan galon kecil tersebut.

Ada juga jamaah yang membawa dua tas, satu tas tenteng bertuliskan "Garuda Indonesia" dan satunya tas kresek besar. Petugas dari Saudi meminta agar barang di tas kresek dikeluarkan dan dimasukkan ke tas tenteng tersebut.

Pemandangan serupa masih terlihat di Gate D. Tumpukan barang tercecer terlihat antara kantor sedergana sektor PPIH Daker Jeddah dan mushala mini. Ada sekitar tujuh kertas sampah ukuran besar warna hitam serta belasan botol atau galon berisi air zam-zam.

Pemandangan itu terlihat pula oleh rombongan Komisi Pengawasan Haji Indonesia (KPHI) saat melakukan sidak ke Bandara Jeddah dan menemui sejumlah jamaah haji Indonesia yang hendak masuk gate keberangkatan.

"Itu tumpukan apa, kok banyak sekali?" tanya Ketua KPHI Slamet Effendy Yusuf kepada Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Jeddah, Ahmad Abdullah Yunus. Ahmad Abdullah lantas menjawab bila tumpukan tersebut adalah barang tercecer.

Ahmad Abdullah menekankan bahwa jamaah haji sebenarnya sudah mendapat sosialisasi dari pihak ketua kloter dan ketua sektor masing-masing tentang barang bawaan, larangan membawa barang berlebih. Kebijakan itu berupa hanya disepakati satu tas tentengan dan satu tas paspor. "Tapi banyak jamaah yang membawa barang lebih termasuk ada sisa barang lain," katanya. 

Barang-barang tersebut seperti barang untuk memasak, mainan anak-anak, panci, magic jarmagic com,rice cooker dan ceret atau teko. "Sampai ke bandara sini, barang itu tetap dibawa dan mereka memaksa tetap dimasukkan dalam satu tas tentengan, alasannya karena hanya ingin dibawa pulang dan tas koper sudah diambil petugas sebelum jamaah haji ke Arafah pada 3 Oktober," jelasnya.  (rol)