Ini Alasan Ratusan Koper Haji Terlambat Diangkut

MADINAH --Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Madinah, Nasrullah Djasam, membenarkan adanya ratusan koper yang belum dibawa ke Madinah saat pemilik koper sudah berada dan ditempatkan di pemondokan di Madinah. Nasrullah juga menduga ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Yakni, kelebihan muatan dari kapasitas maksimal 32 kg sehingga syarikah enggan membawa dan faktior kedua, jumlah truk terbatas, sehingga tak semua koper milik satu kloter bisa diangkut dalam satu waktu atau satu kali keberangkatan.

Nasrullah menjelaskan, untuk koper milik jamaah haji dari Makkah ke Madinah belum dilakukan pemeriksaan. Sehingga, dimungkinkan, isi atau beban koper masing-masing jamaah haji melebih muatan atau kapasitas maksimal. "Waktu datang, isi koper belum penuh. Tapi, setelah haji atau mau pulang, pasti penuh atau kopernya menggelembung berisi oleh-oleh atau baju yang dibeli saat di Makkah," katanya. 

Mengenai kemungkinan syarikah enggan membawa koper yang kelebihan muatan, dia menerangkan, hal itu dimungkinkan terjadi. Kendati, bus yang digunakan jamaah haji dari Makkah ke Madinah merupakan bus peningkatan kualitas atau bus upgrade. Bus upgrade memiliki ruang bagasi lapang dan berada di dalam atau di bawah kursi penumpang, ber-AC, jarak antarkursi longgar atau tidak berdempetan sehingga jamaah haji bisa istirahat di dalam bus, serta tingkat kebisingannya rendah serta tersedia toilet. Meski ada ruang bagasi di bawah bus, kata dia, belum menjamin bisa ditempati semua koper milik jamaah haji dari kedua kloter di atas. "Mungkin, bagasinya sudah penuh berisi tas tenteng, sehingga kopernya ndak muat," kata dia. 

Sedangkan mengenai kemungkinan soal truk, dia menilai hal itu juga bisa terjadi. Sebab, kapasitas satu truk hanya mampu mengangkut sekitar 120 koper. Sedangkan, jumlah jamaah haji dari masing-masing kloter ada 455 orang. "Artinya, dibutuhkan tiga truk atau tiga kali pengiriman dari Makkah ke Madinah bila jumlah truk hanya satu unit," paparnya.

Intinya, dari kedua kemungkinan tersebut, lanjutnya, pihak syarikah atau perusahaan bus tidak mau berisiko membawa penumpang dan koper yang kelebihan muatan dalam satu bus. Kekhawatiran itu terkait keselamatan dan kenyamaan jamaah haji selama dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah yang ditempuh sekitar lima-enam jam.

Untuk pemeriksaan koper-koper milik jamaah, kata lulusan universitas di Maroko ini, akan dilakukan pada H-2 sebelum take off atau keberangkatan jamaah haji ke Indonesia dengan maskapai penerbangan. Itupun, kata dia, petugas penimbangan Daker Madinah hanya melakukan penimbangan kelebihan muatan, bukan mendeteksi isi koper, apakah berisi air zam-zam atau tidak. "Kami tak punya alat x-ray untuk mendeteksi air zam-zam. Alat ini hanya ada di bandara," jelasnya. 

Maka itu, meski sosialisasi tentang larangan membawa air zam-zam di dalam koper terus disampaikan tanpa henti, dia tetap mengkhawatirkan ada jamaah haji gelombang kedua yang memasukkan air zam-zama di dalam koper dan tersangkut masalah di bagian imigrasi Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, atau Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Untuk itu, pihaknya terus mengkampanyekan kepada sekitar 77 ribu jamaah haji Indonesia gelombang kedua agar tak memasukkan air zam-zam di dalam koper.  (rol)