Garuda Indonesia Siap Terbangkan 90.108 Jamaah Haji

Maskapai Garuda Indonesia siap berperan kembali sebagai Angkutan Penerbangan Haji 2013/1434 H mulai 10 September hingga 19 November 2013. 

Fase pertama (keberangkatan) penerbangan haji akan dimulai pada 10 September 2013 hingga 9 Oktober 2013. Sedangkan fase kedua (kepulangan) akan dilaksanakan pada 20 Oktober 2013 hingga 19 November 2013.

Penerbangan langsung ke Madinah dilayani oleh embarkasi Jakarta dengan periode keberangkatan pada 10–24 September 2013 dan periode kepulangan pada 4–19 November 2013. 

Tahun ini Garuda Indonesia akan menerbangkan sebanyak 90.108 calon jamaah haji, atau berkurang dibanding jumlah tahun lalu. Tahun lalu Garuda menerbangkan 112.688 jamaah.

"Ini akibat penerapan pengurangan kuota oleh pemerintah Arab Saudi sebesar 20 persen," kata Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, Jumat (6/9).

Pemerintah juga telah menetapkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara untuk melayani keberangkatan dan kepulangan jamaah asal embarkasi Jakarta mulai tahun ini. Sebelumnya, Garuda Indonesia terbang dan mendarat melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Pujobroto mengatakan Garuda Indonesia akan mengoperasikan 12 pesawat wide-body (berbadan lebar) yang terdiri dari sembilan pesawat Airbus A-330 (kapasitas 375 seat), dua pesawat Boeing 747-400 (kapasitas 455 seat) dan satu pesawat Boeing 777-300 (kapasitas 440 seat). Pesawat-pesawat tersebut rata-rata berusia muda. 

Bahkan, ada pesawat yang diproduksi pada 2011. Proses tender pesawat tersebut telah dilaksanakan secara terbuka dan transparan, dan diumumkan di media cetak nasional dan internasional. 

Awak kabin yang akan bertugas berjumlah 493 orang. Sebanyak 60 persen adalah awak kabin yang direkrut dari masing-masing daerah embarkasi. Perekrutan awak kabin asal daerah embarkasi tersebut merupakan bagian dari upaya Garuda Indonesia meningkatkan layanannya.

"Juga untuk kenyaman para jamaah khususnya untuk mengatasi kendala komunikasi mengingat sebagian besar jamaah hanya mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah masing-masing," ujar Pujobroto.  

(rol)