Kemenag Luncurkan Sistem Atasi Uang Hilang dan Jamaah Tersesat

JAKARTA — Kementerian Agama meluncurkan dua sistem untuk mengantisipasi masalah yang sering terjadi saat berhaji yaitu kehilangan uang dan jamaah calon haji (calhaj) yang hilang atau tersesat. Kedua sistem itu adalah pelayanan perbankan dan Sistem Informasi Pengendalian Petugas (SIPP) dan Jamaah Haji. 
 
“Jamaah jangan membawa uang tunai banyak-banyak, tapi secukupnya. Dengan layanan perbankan ini, jamaah bisa mengambil uang lewat ATM di Saudi dalam bentuk uang riyal,” kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Anggito Abimayu, Senin (9/9).
 
Selama ini jamaah banyak yang membawa uang tunai dan kehilangan. Kehilangan itu kadang terjadi di Masjid Nabawi (Madinah), Masjidil Haram (Makkah) atau di pemondokan.
 
“Kasus kehilangan ini banyak, bisa mencapai ribuan kasus,” kata Anggito. 
 
Dengan layanan perbankan ini, calhaj akan membuka rekening rupiah berupa living cost di embarkasi masing-masing. Keluarga calhaj di Indonesia juga dapat mengirim atau mentrasfer uang. Penarikan uang riyal menggunakan kurs yang berlaku saat itu.  
 
 
Layanan yang gratis ini menggandeng Bank Mandiri, BNI, BRI, dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Tiap embarkasi dilayani oleh salah satu atau dua bank di antara empat bank tersebut, sehingga tidak ada persaingan di embarkasi antar bank-bank tersebut. Setiap penarikan akan dikenakan biaya Rp 20.000-Rp 25.000. 
 
Telusuri jamaah hilang
Sementara itu SIPP diluncurkan untuk melacak calhaj yang “hilang” atau tertinggal. Sistem berbasis web ini dijalankan dengan sistem deteksi alur jamaah. 
 
Penelusuran dilakukan per kloter, jika jumlah calhaj berkurang maka akan kita telusuri keberadaan jamaah tersebut apakah sakit atau tertinggal,” kata Anggito lalu menambahkan, “Berarti petugas kedatangan harus jeli.”
 
Jika keluarga di Indonesia ingin mengetahui informasi sang calhaj, mereka bisa menghubungi call center haji di nomor 500-425.